Menghadirkan perdamaian di dalam keberagaman

Kita sadar bahwa perdamaian dalam kehidupan hanya akan tercipta ketika setiap orang memiliki sikap dan kesadaran untuk saling menghormati. Perbedaan atau keragaman di antara manusia harus diikat dengan rasa persaudaraan kemanusiaan, sehingga tercipta kehidupan yang harmonis dan damai. Ketika kita tak mampu menjaga ikatan persaudaraan tersebut, lebih mengedepankan egoisme kita atau kelompok kita sendiri, maka benih-benih perpecahan akan tumbuh dan mengancam perdamaian.

Pada dasarnya, setiap orang, dari kelompok mana pun, pasti menghendaki kehidupan yang harmonis dan damai. Sebab, perdamaian memang menjadi cita-cita kemanusiaan. Setiap orang berharap bisa menjalin hubungan baik dengan orang lain, hidup tenang dan damai, dan bisa menyongsong hari depan yang cerah dengan penuh harapan. Tak ada seorang pun yang memimpikan hidup dalam suasana konflik, penuh kekerasan, ketegangan, apalagi penjajahan atau peperangan yang mengoyak nilai-nilai kemanusiaan.

Naluri untuk hidup damai mestinya sudah lebih dari cukup untuk menggerakkan kita agar selalu menjaga ikatan persaudaraan dengan yang lain. Kebutuhan akan rasa aman dan damai, mestinya menyadarkan kita agar sanggup mengesampingkan egoisme dan sikap-sikap yang bisa memantik pertikaian atau konflik dengan sesama. Ketika di masyarakat terjadi fenomena pertikaian, saling menghina dan menyerang satu sama lain, yang didasari oleh apa pun, sebagai manusia kita memiliki tanggungjawab bersama untuk bisa menengahi dan meredam agar pertikaian tak berujung konflik dan perpecahan.

Ketika masyarakat yang awalnya hidup tenang dan damai dalam keragaman, kemudian terjadi pertikaian, saling menyerang satu sama lain, saling mempersoalkan perbedaan, saat itu pula kita mesti tergerak untuk berjuang mempertahankan perdamaian. Spirit perjuangan untuk mempertahankan perdamaian ini bisa dikatakan sebagai bentuk jihad kemanusiaan. Yakni jihad merawat nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai perdamaian, nilai-nilai persaudaran dan kasih sayang sesama manusia. Sebaliknya, jihad kemanusiaan berarti perjuangan melawan segala bentuk tindakan anti-kemanusiaan; seperti kekerasan, ketidakadilan, diskriminasi, dan sebagainya.

Teladan dari Rasulullah Saw

Kita memiliki teladan sosok Rasulullah Saw. dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. Narasi Hijrah Rasulullah Saw. dan para pengikutnya dari Makkah ke Madinah, di samping menjadi simbol perjuangan menyebarkan ajaran Islam, juga lekat dengan misi kemanusiaan seperti menjaga persatuan dan persaudaraan sesama manusia. Quraish Shihab dalam bukunya Membaca Sirah Nabi Muhammad, sebagaimana dijelaskan Faturrahman Ghufron (2016), menjelaskan bahwa salah satu momen penting dalam proses hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad Saw. adalah menegaskan semangat kolektif untuk mencapai cita-cita  bersama. Artinya, persatuan dan kesatuan menjadi modal utama yang selalu ditegakkan.

Banyak sejarawan, lanjut Faturrahman, mengungkap bahwa perjuangan yang dilakukan Nabi Muhammad pada masa hijrah adalah untuk mengemban misi kemanusiaan. Misi kemanusiaan tersebut tersirat melalui tiga aspek. Yakni pembangunan masjid, menjalin persaudaraan, dan menggalang kerukunan. Pada saat itu, masjid yang dibangun tak sekadar untuk beribadah kaum Muslim, namun juga menjadi tempat musyawarah dan konsolidasi menyelesaikan problem kemanusiaan. Ini menegaskan, kehadiran umat Islam telah menjadi wadah yang bisa merekatkan tali persaudaraan antar semua golongan. Masjid yang menjadi simbol tempat ibadah umat Islam, saat itu meluas menjadi simbol keberagaman tempat membahas pelbagai urusan kemanusiaan dalam masyarakat Madinah.

Kemudian, spirit persaudaraan yang dijalin Nabi Muhammad di Madinah, tak hanya melibatkan internal sesama kaum muslim. Namun persaudaran berkembang menjadi jalinan solidaritas antar-golongan untuk mengupayakan kabaikan kehidupan bersama. Seperti saling menghormati hak dan kewajiban masing-masing, bersama mengatasi persoalan ekonomi dengan menjaga kelestarian perdagangan, bersama-sama menjaga ketersediaan bahan pangan, dan pelbagai semangat kebersamaan lainnya. Itu semua, dengan sendirinya meniscayakan adanya hubungan harmonis antar semua kaum, golongan, dan etnis yang ada di Madinah.

Aspek-aspek tersebut kemudian membentuk kehidupan masyarakat Madinah menjadi tentram dan damai, meski dalam keragaman. Dalam perkembangannya, Madinah pun dikenal sebagai ciri masyarakat beradab, masyarakat yang menjunjung tinggi semangat persaudaraan dan nilai-nilai keadaban dalam menjalani seluruh aspek kehidupannya, sebagaimana kita mengenal istilah “Masyarakat Madani” sekarang. Keberhasilan Nabi Muhammad Saw dalam menetapkan dan membangun kehidupan damai masyarakat Madinah, mestinya menjadi teladan yang sangat relevan untuk kita resapi, terutama dalam menyikapi keragaman yang ada di dalam masyarakat Indonesia.

Apa yang diperjuangkan Nabi Muhammad Saw. sebagai pemimpin di Madinah, mengisyaratkan bagaimana kita meski bersikap di tengah keragaman. Di samping menyebarkan ajaran Islam sebagai tugas utama, sebagai pemimpin, beliau juga menunjukkan bagaimana mesti bersikap dan menetapkan peraturan di tengah kondisi masyarakat Madinah yang saat dilanda pelbagai persoalan dan konflik. Mempersatukan berbagai kaum dan kelompok yang memiliki kepentingan berbeda-beda, tentu bukan perkara mudah. Namun, lewat Piagam Madinah, Rasulullah Saw. memberi inspirasi bagi kita tentang pentingnya menjaga persaudaran sesama manusia, dengan memegang teguh prinsip persatuan, kerjasama, dan keadilan.

Jika Nabi Muhammad Saw. berhasil membangun kehidupan masyarakat yang damai dan beradab dengan menetapkan Piagam Madinah pada masyarakat Madinah yang majemuk dan beragam, maka kita, bangsa Indonesia juga memiliki Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, landasan kehidupan berbangsa dan bernegara yang menyatukan keragaman dan mengakomodir semua golongan dan kelompok dalam masyarakat Indonesia. Keduanya memiliki relevansi yang kuat, tentang sebuah perjanjian dan dasar menjalani hidup dalam keragaman. Di saat bersamaan, perjuangan Nabi Muhammad Saw. lewat Piagam Madinah telah menjadi teladan bagi umat Muslim tentang pentingnya berupaya, berjuang, berjihad, untuk terus menegakkan nilai-nilai kemanisaan; keadilan, persamaan, dan persaudaraan.

Akhirnya, hidup dalam sebuah masyarakat yang beragam, di samping butuh kesadaran untuk saling menghargai dan toleransi, juga memerlukan adanya perjuangan untuk selalu mengupayakan kerukunan dan keharmonisan. Terlebih, ketika di masyarakat mulai muncul fenonema-fenomena intoleransi, pertikaian yang membawa-bawa perbedaan identitas, maka saat itu perjuangan atau jihad untuk mempertahankan persatuan dan perdamaian harus semakin dikuatkan. Wallahu a’lam..

foto:  by Noedin

Tags:

Leave a Reply