Senin, 11 Desember 2017
Berita Terkini
Meneguhkan Toleransi, Merawat Keberagaman

Meneguhkan Toleransi, Merawat Keberagaman

Di penghujung akhir tahun 2016, Indonesia seakan tak luput dari kasus intoleransi. Reformasi yang diharapkan memberikan perdamaian ternyata tidak memberikan dampak yang signifikan. Ujaran-ujaran kebencian dan informasi provokatif di berbagai media sosial seolah menyulut api kemarahan masyarakat Indonesia. Pembakaran tempat ibadah di Tanjung Balai yang terjadi pada bulan Juli 2016 dan bom di Gereja Samarinda yang menewaskan dua anak kecil berumur 2 tahun merupakan kasus intoleransi yang tidak seharusnya terjadi.

Menarik untuk dikaji lebih jauh, survei nasional dari Wahid Foundation kerja sama dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI) bulan Agustus 2016 tentang “Potensi Intoleransi dan Radikalisme Sosial Keagamaan di kalangan muslim Indonesia”. Hasil survei menunjukkan bahwa dari total responden 1.520 orang sebanyak 59,9 persen memiliki kelompok yang dibenci, yakni kelompok yang berlatar belakang non-muslim, kelompok tionghoa, kelompok komunis, dan selainnya.

Dari 59,9 persen, sebanyak 92,9 persennya tidak suka jika kelompok yang dibenci menjadi pejabat pemerintahan, 82,4 persen tidak rela jika kelompok yang dibenci tinggal di sekitar mereka. Mengingat karakteristik warga negara Indonesia yang beragam, sangat tidak elok jika di tubuh warga negara Indonesia sendiri sudah membentuk kelompok-kelompok yang saling membenci. Kelompok-kelompok yang saling membenci ini akan memunculkan prasangka negatif, sehingga akan lebih mudah diprovokasi melakukan konflik.

Survei tersebut memberikan sinyal positif, karena sebanyak 72 persen umat Islam yang disurvei menolak berbuat radikal (seperti penyerangan terhadap tempat ibadah), dan hanya 7,7 persen yang setuju berbuat radikal dan sudah 0,4 persen yang melakukan tindakan radikal. Mesikpun angkanya hanya 0,4 persen tetapi jika direpresentasikan dengan jumlah umat Islam di Indonesia sebanyak 150 juta maka akan ada sekitar 11 juta umat Islam yang akan bertindak radikal. Apabila sebanyak 11 juta umat Islam ini tinggal di sekitar Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, Surabaya dan sekitarnya pasti keamanan kita sebagai warga Jawa Timur akan terancam. Kita akan hidup penuh dengan prasangka, yang semakin memicu terjadinya konflik fisik.

Konflik-konflik horizontal berbasis intoleransi terutama dalam hal agama perlu segera dihentikan. Masyarakat Indonesiapun seharusnya perlu membaca kembali bagaimana sejarah Indonesia terutama banyaknya pengaruh berbagai macam agama masuk ke Indonesia dengan cara damai dan penuh toleransi.

Toleransi berasal dari bahasa latin “tolerare” yang berarti sabar terhadap sesuatu. Franz Magnis Suseno menjelaskan bahwa toleransi merupakan penerimaan gembira terhadap kenyataan bahwa di sekitar kita hidup orang-orang dengan kepercayaan-kepercayaan dan agama-agama yang berbeda-beda. Toleransi merupakan sikap atau perilaku manusia yang mengikuti aturan, dimana seseorang dapat menghargai, menghormati terhadap perilaku orang lain. Toleransi melarang adanya diskriminasi terhadap suatu kelompok tertentu yang berbeda.

Menolak Lupa: Toleransi dalam Sejarah Indonesia
Sebelum kita menyimak bagaimana toleransi menjadi bagian sejarah bangsa Indonesia, perlu kita simak terlebih dahulu bagaimana Kerajaan Turki Ottoman berhasil menaklukkan hampir sebagian besar Timur Tengah, Afrika Utara, Yunani, dan Eropa Timur selama abad ke-14 dan abad ke-15. Penaklukkan tersebut mengakibatkan Kerajaan Turki Ottoman mendapatkan banyak warga negara Yahudi dan Kristen. Meskipun demikian, untuk berbagai alasan teologis dan strategis, orang-orang Ottoman memperbolehkan minoritas untuk memeluk agamanya sendiri dan memberikan kebebasan memerintah diri sendiri dalam urusan yang murni internal dengan Undang-Undang dan pengadilannya sendiri.

Selama hampir setengah millenium, orang-orang Ottoman memerintah sebuah kerajaan yang begitu beragam dalam sejarah. Hebatnya, masyarakat yang polietnis dan multi agama itu berjalan baik. Umat Islam, Kristen, dan Yahudi beribadah dan belajar bersama memperkaya kebudayaan mereka yang berbeda (Braude dan Lewis dalam Kymlica, 2015). Kerajaan Ottoman berhasil mengakomodir keberagaman wilayah-wilayah taklukannya dengan mengembangkan sikap saling toleransi.

Kemudian kita akan kembali menengok kejayaan masa lalu Indonesia, ketika agama Hindu, Buddha, dan Islam masuk ke Indonesia dengan budaya tanpa adanya kekerasan. Sebelum agama Hindhu masuk, nenek moyang bangsa Indonesia sudah memeluk kepercayaan lokal seperti animisme dan dinamisme. Di saat agama Hindhu-Budha masuk ke Indonesia, nenek moyang kita tidak serta merta menolak hadirnya kedua agama tersebut tetapi mengakulturasikan kedua agama tersebut.
Hal ini dapat kita amati melalui bangunan-bangunan bersejarah yang masih ada sampai saat ini.

Candi Prambanan merupakan tempat ibadah umat Hindu. Apabila dikaji lebih dalam bangunan candi yang bertingkat-tingkat (menyerupai punden berundak) merupakan bangunan khas Indonesia pada masa pra-sejarah. Di dalam bangunan bertingkat tersebut terdapat patung Dewa Brahma, Wisnu, dan Shiwa yang disembah oleh umat Hindu. Bangunan tersebut menunjukkan bahwa nenek moyang kita tidak menolak pengaruh asing yang masuk dan juga tidak menerima secara mentah-mentah, tetapi wujud toleransinya adalah dengan menggabungkan kedua artefak tersebut menjadi satu benda hasil budaya.

Pada saat pedagang Islam masuk ke Indonesia, dan sebagian besar masyarakat memeluk agama Hindu dan Buddha, mereka tidak menolak masuknya pengaruh Islam ataupun memeranginya. Nenek moyang kita berusaha untuk bekerja sama dengan masuknya pengaruh Islam tersebut. Contoh yang menarik yang masih ada sampai saat ini yakni “soto kudus”. Makanan ini merupakan simbol toleransi antara umat Islam dan Hindu. Konon makanan soto sudah ada di Indonesia sejak zaman dahulu yang merupakan percampuran dari bebagai macam budaya, bihun dari China dan kuah soto yang terdapat bumbu kunyit seperti kare dari India. Yang menarik yakni soto Kudus menggunakan daging kerbau karena umat muslim di Kudus menghormati umat Hindu di sana yang tidak boleh makan daging sapi.

Keteladanan toleransi dalam sejarah seperti yang telah dicontohkan, seharusnya dapat kita ingat kembali di masa kini, di kala Indonesia sedang dilanda prasangka dan kebencian terhadap kelompok lain yang berbeda. Kita harus sadar bahwa di masa dahulu kita pernah menjadi bangsa yang toleran, apakah saat ini kita akan mengalami kemunduran dengan bersikap bangga terhadap kehomogenan?

911 Total View | 1 View Hari ini

ISI KOMENTAR

Menu Utama
© 2017
YASKUM INDONESIA