Kenapa Korban Investasi Bodong Orang Terdekat?

Setiap orang mempunyai cara sendiri untuk berinvestasi bila ada kelebihan pendapatan, baik dengan cara tabungan di bank, membeli saham, sukuk, tanah, rumah, emas batangan/perhiasan, dolar,  dolar, atau menyimpan uang dibawah kasur, supaya dapat mencukupi kebutuhan mendadak/sudah direncanakan tanpa meminjam saudara, keluarga, teman, bank atau rentenir. Maksud disisihkan pendapatan untuk mengamankan uang agar tidak habis semua untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya konsumsif, mengingat  “nafsu” untuk memenuhi keinginan orang itu kadang sulit dikendalikan.

Menyisihkan pendapatan bukan berarti “pelit” untuk mengeluarkan uang, semua itu sudah diatur dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Keluarga (RAPBK), jadi lebih bersifat hati-hati untuk membelanjakan pendapatan. Apalagi dalam keluarga hanya satu sumber pendapatan dari suami, seorang isteri harus mengelola keuangan keluarga dengan cermat, agar “tidak besar pasak daripada tiang”, artinya pengeluaran lebih besar daripada pendapatan alias “boros”.

Kalaupun sumber pendapatan ada juga dari isteri, bukan berarti suami terbebas untuk memberi nafkah lahir, karena pendapatan suami itu ada hak untuk isteri, yang bagi suami menjadi kewajiban untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Isteri wajib mengelolanya untuk membelanjakan sesuai dengan kebutuhan.

Bila isteri juga mempunyai pendapatan itu hak sepenuhnya isteri, walaupun kenyataannya sering untuk memenuhi keperluan keluarga juga. Sekedar sebagai “ban serep” bila ada keperluan mendadak, atau pun dapat di investasikan bila ada kelebihan. Bagi para pensiunan pun dapat berinvestasi dari uang tabungan pensiun, uang pesangon, namun harus hati-hati masih maraknya “investasi bodong”.

Invenstasi bodong ini biasanya bohong, karena secara logika pun sudah tidak masuk akal. Mana ada orang berinvestasi setiap bulan mendapat jasa sebesar 10 persen dari nilai investasi? Uang yang terkumpul dari para investor juga belum jelas untuk usaha apa, bagaimana prospeknya, dimana usahanya, siapa yang bertanggung jawab, semuanya seperti misteri.

Tidak ada hitam diatas putih (kwitansi) dalam transaksi penyerahan uang, sehingga tidak ada bukti tertulis, tidak ada saksi, apalagi pengakuan telah menerima uang. Mudah sekali lepas tanggung jawab bila terjadi “wan prestasi”, seperti yang dijanjikan. Saat mencari “calon investor”, orang seperti terhipnotis dengan “kepiawian” bicara untuk “memperdaya” memasukkan uangnya.

Tidak jelas orang yang memperdaya itu korban investasi bodong, atau pelaku yang  sudah masuk dalam lingkaran pengelola investasi bodong. Artinya antara istilah “ditipu” dengan “menipu” itu sangat tipis bedanya, bisa jadi awalnya ditipu orang, kemudian berbalik menipu orang lain. Biasanya  yang mudah diperdaya keluarga dekat (orang tua, kakak, adik, keponakan, ipar), teman dekat (akrab, satu ruangan kerja), kenalan.

Keluarga dekat menjadi sasaran pertama untuk diperdaya, dengan alasan lebih mudah percaya dan mudah mengeluarkan uang daripada orang lain. Selain itu juga terpedaya oleh omongan manis dengan janji uangnya tetap utuh, ditambah tiap bulan mendapat jasa besar (10 persen). Selain itu keluarga dekat tidak banyak bertanya, tanpa kwitansi pun tidak mempermasalahkan, karena modalnya kepercayaan (trust), tidak menungkin melakukan penipuan.

Orang yang tidak berpikir jernih, panjang dan dengan nalar sehat, serta kepingin cepat pundi-pundi rupiahnya bertambah banyak pasti langsung tertarik dengan iming-iming jasa 10 persen. Namun bagi orang yang berpikir, jasa 10 persen sama dengan riba, seperti lintah darat, berdosa, karena termasuk larangan dalam agama.

Selain mempunyai keyakinan rejeki dari riba itu tidak halal, tidak barokah, sehingga tidak mudah tergiur oleh iming-iming untuk berinvestasi. Untuk menyakinkan investor, penipu membuktikan dengan membayar seperti yang dijanjikan setiap bulan memberi jasa 10 persen dari nilai investasi. Namun hal ini hanya “akal bulus” penipu, agar investor menambah nilai investasinya.

Pembayaran setiap bulan ternyata hanya berlangsung maksimum 3 (tiga) bulan, setelah itu mulai tersendat dan macet. Jangan berharap setiap bulan mendapat jasa, bahkan inventasi pokok pun sulit untuk kembali. Artinya investasi bodong itu benar-benar hanyalah tipuan belaka, yang tidak pernah dipakai untuk usaha apapun.

Parahnya lagi uang yang terkumpul dari investor itu justru oleh “pengepul investor” dipakai untuk membeli barang konsumtif (mobil, motor, pakaian, perhiasan), berfoya-foya, bersenang-senang dan  pokoknya seperti Orang Kaya Baru (OKB), berdandan menor, baju, tas, kacamata, sepatu “branded” tetapi KW, mentrakir teman-teman di cafe, restoran.

Ketika para investor sudah sadar tertipu dan menagih orang yang dulu memperdaya dengan santai menjawab “saya juga tertipu”. Lapor polisi pun tidak ada bukti tertulis kalau sudah ada penyerahan uang dengan nilai nominal tertentu.

Para investor terus mendesak hanya diberi janji akan membayar bulan depan dan bertanggung jawab mengembalikan. Namun sampai satu bulan, dua bulan, satu tahun janji itu tetap janji alias ingkar janji. Kalaupun ada barang-barang bergerak, sudah diambil paksa oleh para investor yang lain. Sisanya tinggal rumah dan tanah untuk menjual juga tidak mudah dan cepat.

Hati-hatilah untuk investasi, konsultasikan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kalau ada yang mengajak berinvestasi, siapapun dia orang terdekat, tetangga, teman, karena sampai saat ini masih disinyalir banyak pencari investor bodong bergentayangan di sekitar anda. Waspadalah, jangan terjebak dan tergiur dengan bujuk rayu yang menyesatkan.

 Yogyakarta, 29 Juli 2018 Pukul 10.05

Tags:

Leave a Reply